Close Menu
Ma'had Aly Iqna' Ath-ThalibinMa'had Aly Iqna' Ath-Thalibin
  • BERANDA
  • PROFIL
    • SEJARAH
    • VISI DAN MISI
    • BIOGRAFI MASYAYIKH
  • KAJIAN
    • HADIST AHKAM
    • FIQH
  • AKADEMIK
    • Muhadlir Ma’had Aly
    • Jadwal Durus
    • Kalender Akademik
  • SEJARAH
  • PENGUMUMAN
    • INFORMASI WISUDA
    • PENDAFTARAN KKN
  • PENDAFTARAN
  • TAZKIYAH
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
Ma'had Aly Iqna' Ath-ThalibinMa'had Aly Iqna' Ath-Thalibin
Subscribe
  • BERANDA
  • PROFIL
    • SEJARAH
    • VISI DAN MISI
    • BIOGRAFI MASYAYIKH
  • KAJIAN
    • HADIST AHKAM
    • FIQH
  • AKADEMIK
    • Muhadlir Ma’had Aly
    • Jadwal Durus
    • Kalender Akademik
  • SEJARAH
  • PENGUMUMAN
    • INFORMASI WISUDA
    • PENDAFTARAN KKN
  • PENDAFTARAN
  • TAZKIYAH
Ma'had Aly Iqna' Ath-ThalibinMa'had Aly Iqna' Ath-Thalibin
Tarekat

Meniti Jalan Makrifat

adminBy admin15 Januari 2021Updated:21 April 2025Tidak ada komentar5 Mins Read

Jalan Hidup Ulama Sufi

Tasawuf merupakan ilmu untuk mengetahui bagaimana seseorang bisa membersihkan jiwanya dari sifat-sifat buruk, serta menghiasinya dengan kebaikan. Dan puncak dari itu semua adalah makrifat kepada Allah subhanahu wata’ala. Sedangkan orang yang meniti jalan untuk mencapai makrifat Allah dinamakan sufi.

Dalam menjalani hidup, ulama Sufi dan Waliyullah lebih mendahulukan kemaslahatan akhirat dari pada kemaslahatan dunia. Hal ini disebabkan pengetahuan mereka mengenai derajat dunia yang tidak sebanding dengan derajat yang ada di akhirat.

Ulama sufi yang telah mencapai derajat yang tinggi, mengetahui bahwa kenikmatan makrifat dan ahwal rohaniyyah merupakan kenikmatan paling mulia. Oleh sebab itu, mereka lebih mengutamakan keduanya dari pada kenikmatan dunia, bahkan akhirat. Seandainya semua orang merasakan apa yang dirasakan oleh para sufi, niscaya mereka akan mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh para Sufi. Mereka tidak lelah dalam beribadah, selalu mengasingkan diri untuk mendekat.

Untuk mendapatkan fadhilah kemakrifatan, ada sebagian ulama Sufi yang mencapainya tanpa bersusah payah, sehingga ahwal rohaniyyah tumbuh dalam diri mereka tanpa usaha dan kerja keras. Sedangkan Sufi yang lain bersusah payah untuk mendapatkan fadhilah kemakrifatan dengan cara menumbuhkan ahwal rohaniyyah dalam dirinya. Dengan demikian, ulama Sufi dibagi menjadi dua. Pertama, seorang Sufi yang dengan mudah mendapatkan fadhilah kemakrifatan. Kedua, Seorang Sufi yang mendapatkanya dengan bekerja keras dan susah payah.

Orang-orang yang telah bersusah payah untuk memperoleh kemakrifatan, namun ia belum mendapatkanya. Maha Suci Allah yang telah memberi kemakrifatan kepada orang-orang tertentu, tanpa harus bekerja keras dan tanpa pencarian petunjuk dan ketekunan. Allah sangat dermawan memberi dan menyirami jiwa para Sufi dengan mata air jernihNya dan bening anugerahNya. Allah menyibukkan mereka untuk selalu beribadah dan hanya menghadap kepadaNya. Tidak ada kesusahan bagi mereka, kecuali karenaNya, tidak ada sesuatu yang membahagiakan, kecuali karenaNya, tidak berpegang teguh kecuali kepadaNya. Semua itu dilakukan oleh para sufi, karena mereka sadar tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Mereka ridlo terhadap qadaNya, sabar akan berbagai cobaanNya dan syukur terhadap segala nikmatNya. Apa yang dianggap sempit oleh orang lain, namun luas menurut ulama Sufi, dan apa yang dianggap luas oleh orang lain, sempit bagi mereka.

Jalan Makrifat

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallahu`alaihi wasallam bersabda:

من عرف نفسه فقد عرف ربه

Artinya: “Seseorang yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Hadist diatas menjelaskan bahwa dengan mengenali diri sendiri, akan mengantarkan seseorang untuk mengenali Allah subhanahu wata’ala. Kata “diri sendiri” adalah bagian dari ciptaan Allah di alam semesta, sehingga pengenalan terhadap diri sendiri adalah salah satu jalan untuk menghubungkan dimensi makhluk dengan dimensi  ketuhanan.

Menurut Ibnu Abbas, ada dua kemungkinan dalam menafsiri hadits tersebut. Pertama, seseorang yang mengenali (baca: menyadari) kelemahan, kehinaan dan ketergantungan dirinya kepada sesuatu yang lain, maka ia akan mengenal keagungan dan kemahabesaran Illahi Rabbi. Penafsiran di atas mengisyaratkan bahwa mengenal diri sendiri adalah salah satu tahapan sebelum mengenal Tuhan.

 Kedua, seseorang yang telah mengenal dirinya, berarti ia telah mengenal tuhannya. Dengan kata lain, orang yang mengenal dirinya sendiri, berarti telah mengenal tuhannya terlebih dahulu karena sejatinya Allah yang membuatnya bisa mengenal “diri sendiri”. Jika Allah subhanahu wata’ala tidak menghendakinya untuk mengenal orang lain, maka ia tidak akan mengenal siapapun, termasuk dirinya sendiri. Penafsiran diatas menunjukan bahwa mengenal Tuhan lebih dahulu terjadi sebelum mengenal diri sendiri.

Dari dua penafsiran di atas, penafsiran yang pertama lebih relevan untuk direfleksikan oleh kalangan salikin (orang-orang yang baru merambah jalan menuju Tuhan). Sedangkan penafsiran kedua lebih pada kalangan majdzubin (orang-orang yang telah mengenal dan senantiasa mengingat Allah).

‘Ibrah Karomah

Ketahuilah! (Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa mengingat Allah). seseorang yang telah diangkat Allah menjadi kekasihNya (selanjutnya disebut: wali),  maka hatinya akan selalu dijaga dari selainNya dan diterangi oleh nur Ilahi. Bahkan sebagian ‘Arifin mengatakan: “Jika Allah berkehendak untuk menghiasi langit dengan bintang dan awan, maka hati seorang mukmin lebih layak untuk dihiasi”. Hal ini senada dengan Hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad shallahu`alaihi wasallam bahwa Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Bagiku, langit dan bumi, tidak mencukupiku, tetapi yang mencukupiku adalah hati seorang mukmin”. Hadits ini menunjukan keagungan rahmat Allah yang telah diberikan kepada hati seorang mukmin sehingga mendapatkan kemuliaan yang sangat besar.

Syaikh Abul Hasan ra. berkata: “Seandainya cahaya seorang mukmin yang ahli maksiat diperlihatkan, maka cahaya itu akan menerangi bumi dan langit, lalu bagaimana jika seorang mukmin tersebut adalah ahli tha’at?”.  Ibnu Abbas ra. juga mengatakan bahwa “hakikat kemuliaan seorang wali tidak akan terjangkau oleh siapapun”. Diriwayatkan pula bahwa sebagaian Muridin bercerita: “Pada suatu hari, aku sholat di belakang guruku, kemudian aku menyaksikan hal yang menggetarkan akalku. Aku melihat tubuh guruku memancarkan cahaya yang terang benderang, sehingga aku tidak kuasa melihat apapun”.

Andaikan nur seorang wali diperlihatkan, maka ia akan menutupi cahaya matahari dan bulan.

“Dimana lagi cahaya matahari dan bulan?”

Dari beberapa riwayat di atas, cukup tepat adanya seorang penyair yang menulis sya’ir di bawah ini:

Cahaya matahari akan tenggelam di malam hari, namun cahaya hati tak akan pernah tenggelam jua

JOHN MCCARTHY

Allah Maha Mengetahui kualitas dan kuantitas setiap hambaNya, dan akan memberikan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka. Sehingga tidak mengherankan jika cahaya para aulia ditutupi dan disembunyikan. Tidakkah harta karun kerap dikubur? Dan rahasia selalu dijaga?. Hal ini dilakukan agar sirri (rahasia) para aulia menjadi bagian dari yang ghaib dan agar semua orang mukmin mengimaninya sebagai sesuatu yang ghaib.

Selain itu, Allah subhanahu wata’ala tidak tertarik untuk memperlihatkan nur di alam yang tidak memiliki keabadian ini. Allah subhanahu wata’ala lebih tertarik untuk menampakkan keutamaan para auliya –nanti– di istana keabadian, alam Akhirat. Di akhirat, semua yang tertutup ketika di dunia, akan tampak jelas.  Segala kagungannya. Segala pancarannya.

Oleh: Ah. Maimun Nafis

Previous ArticleCES 2021 Highlights: 79 Top Photos, Products, and Much More
Next Article Taubat Sebagai Media Pendekatan Diri Kepada Sang Khaliq
admin
  • Website

Related Posts

Jalan Menuju Surga Allah

19 Februari 2025

Metode Wira’i Syaikhina KH. Maimoen Zubair

15 Februari 2025

Keluarkan Dunia dari Hatimu dan Letakkan di Tanganmu

17 Januari 2025

Bagaimana Caraku Mencintainya?

15 Januari 2025
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Pos-pos Terbaru
  • Mahad Aly Iqna’ Ath-Thalibin Gelar Daurah Ilmiah Bersama Ulama Besar Yaman, Syaikh Dr. Yasir Al-Syuhairi
  • Pentingnya Evaluasi Diri Setelah Melakukan Segala Hal
  • Ma’had Aly Iqna’ Ath-Thalibin Gelar Wisuda Ke-5: Sebanyak 127 Mahasantri Mengikuti Prosesi Wisuda
  • KEUTAMAAN DAN TATA CARA MENULIS BISMILLAH 113 KALI DI MALAM 1 MUHARRAM
  • Bulan Muharram: Gerbang Tahun Hijriyah dan Ladang Keutamaan
Laman
  • About Me
  • AKADEMIK
  • Beranda
  • BIOGRAFI MASYAYIKH
  • Blog
  • Contact
  • Home
  • INFORMASI WISUDA
  • Jadwal Durus
  • Kalender Akademik
  • Muhadlir Ma’had Aly
  • Our Authors
  • PENDAFTARAN
  • PENDAFTARAN KKN
  • Sample Page
  • Sejarah
  • Sejarah dan Perkembangan Ma’had Aly Iqna’ Ath-Thalibin
  • TAZKIYAH
  • VISI DAN MISI
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Home
  • Tarekat
© 2026 Ma'had Aly Iqna' Ath-Thalibin. Designed by Ma'had Aly Iqna' Ath-Thalibin.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.