Rembang – Mahad Aly Iqna’ Ath-Thalibin Pondok Pesantren Al-Anwar 1 Sarang, Rembang, menggelar Daurah Ilmiah bersama ulama besar asal Yaman, As-Syaikh al-Musnid al-Qodhi Dr. Yasir Al-Adni bin Salim As-Syuhairi, Rabu malam (26/8/2025). Kedatangan Syaikh Yasir Al-Syuhairi pada hari Selasa (26/08) dan disambut hangat oleh para Masyayikh dan Dosen Mahad Aly.
Daurah Ilmiah ini berlangsung di Musholla Daru at-Tauhid dan dihadiri oleh Wakil Mudir Mahad Aly KH. Abdurrouf Maimoen, Dosen, dan seluruh mahasantri. Turut hadir, KH. Muhammad Idror Maimoen, Ketua Mahad Aly K. Zaenal Amin, S.Ag., dan K. Fahrurrozi, S.Ag. dan seluruh civitas akademika Mahad Aly Iqna Ath-Thalibin.
Acara dimulai pukul 20.00 hingga 22.00 WIB itu diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan dari Wakil Mudir Mahad Aly oleh KH. Abdurrouf Maimoen, dan dilanjutkan dengan Daurah Ilmiah serta pemberian ijazah sanad kepada seluruh hadirin.

Pemberian Ijazah Sanad dan Kajian Kitab
Dalam daurah ini, Syaikh Yasir membacakan kitab “As-Sanadul Yamani Ila Tsalatsiyat Al-Bukhari wa Tirmidzi wa Ibnu Majah wa Dharimi”. Pada kesempatan yang sama, beliau juga memberikan ijazah sanad kepada seluruh peserta yang hadir. Ijazah tersebut menjadi bukti keterhubungan sanad keilmuan yang bersambung hingga kepada Rasulullah ﷺ.
“Sanad bukan sekadar persoalan shahih atau dha’if, tetapi sebuah keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ yang memiliki jalur transmisi ilmu sampai kepada beliau,” tegas Syaikh Yasir.
Biografi Syaikh al-Musnid al-Qodhi Dr. Yasir Al-Adni bin Salim As-Syuhairi
Dr. Yasir Al-Syuhairi dikenal sebagai ulama muda berwawasan luas. Ia merupakan qadhi di Yaman Utara yang memegang dua gelar doktor di bidang Hadis dan Aqidah. Selain hafal ratusan sanad hadis dari berbagai jalur periwayatan, beliau juga rutin mengajar hadis, sanad Tsulatsiyat Bukhari, hingga Qiraah Ashim riwayat Hafs.
Sejak konflik melanda Yaman, Dr. Yasir hijrah ke Tarim dan mendapat sambutan hangat dari para ulama setempat, termasuk Habib Abu Bakar Al-Adeni. Ia diminta mengajar di pesantren-pesantren terkemuka, bahkan guru-guru di Darul Musthafa turut menyambung sanad kepada beliau.
Saat ini, Dr. Yasir aktif sebagai dosen tamu di berbagai universitas, penasihat di Kementerian Auqaf, imam dan khatib, hakim di Mahkamah Aden, serta pendiri Darul Hadits Lil Irtsi An Nabawi di Tarim.
Beberapa karya monumentalnya antara lain:
- Tanbih Dawil Hajj Ila Adillati Safinati Najah Fi Fiqih Syafii
- Al-Aqidatul Mustatabah Sual Wajabuhu
- Al-Amtsilatul Jaliyah Alal Mandhumah Al-Bayquniyah
- As-Sanadul Yamani Ila Tsalatsiyat Al-Bukhari Wa Tirmidzi Wa Ibnu Majah Wa Dharimi
- At-Thariqu Ad-Dhani Ila Tsanadil Aly
- Taqribul Wushul Ila Ilmil Ushul
Pesan Penting Syaikh Yasir dalam Dauroh Al-Ilmiyah
Dalam Daurah Ilmiah tersebut, Syaikh Yasir memberikan iajzah sanad hadis yang bersambung kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, bersabda:
الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء.
“Orang-orang yang penuh kasih sayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman). Maka sayangilah siapa pun yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kalian.”
Syaikh Yasir bin Salim As-Syahiry juga menerangkan bahwa semua sanad beliau yang bersambung kepada Imam Bukhari tidak terkait dengan penilaian shahih atau dha’if-nya sanad tersebut. Tujuan beliau hanyalah menunjukkan salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu memiliki sanad (isnād) yang bersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau juga mengkritik orientalis yang kerap meragukan keaslian hadis dengan mengatasnamakan pendekatan ilmiah. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam, perdebatan ilmiah memiliki kaidah yang tegas, sebagaimana disebutkan:
إذا أردت أن تنقل لابد من أن تنقل نقلا صحيحا ، وإن كنت مدعيا فلابد أن تأتي بالبرهان أي الدليل
“Jika kamu menukil, maka harus menukil dengan benar. Dan jika kamu mengklaim, maka harus membawa dalil sebagai buktinya.”
Menurut Syaikh Yasir, kaum Yahudi dan Nasrani memang memiliki sanad yang dinisbatkan kepada nabi-nabi dan kitab-kitab mereka, namun sanad tersebut bercampur antara yang maudhu’ (palsu), makdzub (dusta), dha’if (lemah), hingga yang shahih.
Adapun dalam Islam, setiap hadis memiliki sanad yang jelas dan melalui penelitian mendalam oleh para ulama hadis. Sayangnya, hal ini tidak sampai kepada orang awam. Para orientalis memanfaatkan celah ini, menyebarkan syubhat kepada masyarakat awam, lalu meragukan keaslian hadis.
Syaikh Yasir menantang mereka dengan pertanyaan:
“Tunjukkan dalil dan sanad yang jelas bahwa Injil benar-benar bisa dinisbatkan kepada Nabi Isa ‘Alaihissalam. Mana bukti sanad yang sampai kepada beliau?” Tentu, mereka tidak akan mampu menjawab.” Tegas Syekh Yasir.
Di akhir daurah, Syaikh Yasir juga menegaskan bahwa umat Islam kini masih memiliki lebih dari 500 ribu hadis dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah ﷺ. bahkan pada masa Imam Ahmad bin Hanbal jumlahnya mencapai satu juta hadis.
“Mereka yang mengkritik sanad dalam Islam harus menunjukkan bukti sanad Injil yang sampai kepada Nabi Isa ‘Alaihissalam. Tentu mereka tidak akan mampu,” ucap Syaikh Yasir.
Oleh karena itu, mengkritik Islam atas dasar sanad adalah tindakan yang tidak ilmiah. Justru memiliki sanad yang bersambung sampai Rasulullah ﷺ merupakan salah satu keistimewaan terbesar umat Nabi Muhammad ﷺ, yang tidak dimiliki umat-umat sebelumnya.


